ika tanya pendapatku soal ini, bagiku mendaki gunung adalah “sebuah kepuasan mewah yang wajib dilakukan semasa muda.”
Walaupun hak kalian juga untuk memutuskan naik gunung setelah rada tua nanti. Tapi itulah, mendaki gunung itu adalah kepuasan.
Kepuasan yang mewah bukan berarti kamu harus beli perlengkapan mendaki berharga mahal agar ‘penderitaan’ ketika naik gunung nanti akan minim terasa, beli perbekalan yang mewah, dan sebagainya. Bukan begitu.
Terlepas dari rasa sakit yang pasti kita rasakan nantinya, proses mencapai puncak dan tiba di rumah dengan selamat adalah esensi dari mendaki gunung. Dan terlepas dari berhasil-tidaknya kita mencapai puncak, pulang ke rumah dengan selamat tetaplah nomor 1.
Dan yang lainnya; sedikit gambaran tentang perjuangan hidup, keindahan alam, kekompakan, dan kepedulian terhadap sesama dan alam akan terasa begitu dalam ketika mendaki gunung.
Ketika mendaki gunung, siapa pun kamu dan dari mana pun asalmu tidaklah penting.
‘Wajib’ bukan kata yang tepat. Bayar pajak, buang sampah pada tempatnya, itu baru wajib. Kamu tidak pernah wajib untuk mendaki gunung.
Mendaki gunung hanyalah pilihan; pilihan yang menurutku perlu kamu ambil kalau kamu ingin tahu ‘kepuasan mewah’ yang kumaksud tadi.
Jangan jadikan ajakan teman, narsisme di Instagram dan media sosial lain, gengsi, dan hal-hal lain sebagai ‘hal-hal’ yang membuatmu merasa wajib untuk mendaki gunung.
Percayalah, kamu tidak akan terlihat keren jika motivasimu untuk mendaki hanyalah hal-hal yang baru disebutkan tadi.
Jadikan mendaki gunung sebagai sebuah pilihan yang kamu ambil dengan kesadaran penuh karena kamu yakin dengan pilihan itu, bukan sebagai kewajiban.
Dengan begini, mendaki gunung akan terasa jauh lebih nikmat di atas segala penderitaan yang ada nantinya.
Komentar
Posting Komentar