Gunung Bawakaraeng (05°19'01"LS, 119°56'40"BT) adalah gunung dengan ketinggian 2.830 MDPL yang terletak di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Secara ekologis gunung ini merupakan sumber penyimpanan air untuk kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Sinjai.
Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan atau raja. Jadi Bawakaraeng diartikan sebagai mulut Tuhan atau mulut raja. Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali.
Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.
Hal ini dikarenakan masyarakat Sulawesi Selatan khususnya masyarakat setempat yang beragama Patuntung berkeyakinan bahwa Bawakaraeng merupakan tempat bersemayamnya Tu Rie Arana atau Yang Maha Berkehendak.
Saya pribadi mendaki gunung Bawakaraeng melalui desa Malakaji, kecamatan Tompobulu, kabupaten Gowa dalam rangkaian Lintas Gunung Lompobattang-Bawakaraeng bersama 2 orang sahabat saya, yakni Syaiful dan Erwin yang merupakan anggota MAPALA 45 MAKASSAR, dan juga 2 orang kawan dari Universitas Muslim Indonesia, yakni Andiska dan Fikar.
Kondisi medan saat lintas masih sangat tertutup, treknya cukup terjal mendaki dan menurun, apalagi saat hendak menuju Lembah Kharisma (lembah yang terletak di antara Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng). Kondisi hutan pun sangat basah yang menyebabkan banyaknya populasi pacet atau lintah di sana. Ditambah saat selama pendakian, kami selalu diguyur hujan.
Selain itu, di dua gunung ini merupakan habitat dari hewan endemik Sulawesi Selatan, yaitu Anoa (Bubalus Quarlesi).

Komentar
Posting Komentar