Langsung ke konten utama

Pergilah Ketempat yang belum kalian tuju

 


" Lawu, Seru" 

Berikut adalah kisah perjalanan saya ke gunung Lawu yang terletak di daerah administratif Jawa Tengah ( Candi Cetho ) dan Jawa Timur ( Cemoro Sewu & Cemoro Kandang). 

Gunung Lawu memiliki pesona keindahan yang menakjubkan di puncak tertinggi nya yang bernama puncak Hargo Dumilah, dengan View beberapa gunung di sebrangnya yaitu Gunung Slamet, Gunung Merbabu dll 

Selain memiliki view dengan pegunungan yang lain, Gunung Lawu juga memperlihatkan keindahan nya dengan Hamparan Lautan Awan yang menakjubkan dikala Musim Kemarau. 

Dalam perjalanan ini saya dan rombongan saya yang berjumlah 11 orang berangkat dari pondok bahar salah satu kelurahan yang terletak di Kota Tangerang, saya Berangkat pada hari Jum'at pukul 21:00 WIB dengan menggunakan Elf yang sudah kami sewa sebelumnya di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. 

Saya dan rombongan berangkat melesat ke jawa tengah dengan menempuh waktu sekitar 10 Jam Perjalanan Tangerang - Candi Cetho. Gunung Lawu seperti yang saya ceritakan sebelumnya memiliki 3 Jalur pendakian yaitu; Candi Cetho (Jawa Tengah), Cemoro Sewu, dan Cemoro Kandang di Jawa Timur.

Saya dan rombongan telah sepakat untuk memilih jalur pendakian melalui Candi Cetho yang berada di daerah Karang anyar Jawa Tengah. 

Setelah tiba di sana pada hari sabtu pukul 08:00 WIB saya dan rombongan mulai melakukan penyelesaian Registrasi Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) di basecamp Andika Rahayu. 

Kami mulai melakukan Packing ulang untuk peralatan dan logistik yang nantinya akan kami bawa dalam pendakian dan yang tidak kami perlukan di tinggal di basecamp tempat kami menyelesaikan Registrasi tersebut. 

Setelah selesai melakukan Registrasi dan mengisi tenaga dengan sarapan pagi di warung terdekat, telor ceplok dan sayur labuh dirasa cukup untuk mengisi tenaga kita agar bisa Lancar dalam melakukan pendakian akhirnya waktu menunjukan pukul 09:30 WIB kami mulai melangkah ke puncak Gunung Lawu. 

kami kuatkan langkah demi langkah untuk menggapai puncak lawu yang sebelumnya sudah kita rencanakan untuk menggapai nya bersama-sama, kami tiba di Pos 1 Mbah Branti di ketinggian 1.600 Mdpl berupa tanah lapang dan mempunyai Shelter kecil yang dirasa cukup untuk kami beristirahat dan bercengkrama sejenak. 

Setelah sekitar 10 menit sudah kita lalui untuk beristirahat dan sekedar bercengkrama di Pos 1 Mbah Branti, kami mulai melangkah kembali ke Pos 2 yang kami estimasikan memakan waktu sekitar 55Menit dari Mbah Branti. 

Vegetasi yang ada di pos 1 menuju pos 2 sedikit terbuka dan jalur setapak yang sangat berdebu karena menurut info warga setempat karang anyar sudah seminggu lebih tidak turun hujan, maka dirasa sangat wajar apabila jalur pendakian sangat berdebu yang membuat semangat yang menggebu-gebu diawal membuat ragu untuk kembali melangkah ke puncak lawu. 

namun semangat dan kekompakan yang kami tanamkan kedalam masing-masing orang dalam tim pendakian kali ini sangat membantu kaki untuk melangkah kembali melalui rintangan demi rintangan, sekitar pukul 12:57 WIB tibalah kami di Pos 2 Brekseng di ketinggian 1.906 Mdpl. di pos 2 Brekseng juga memiliki Shelter Kecil untuk kami beristiraht dan melakukan santap siang. 

Setelah usai melakukan santap siang dan menghisap rokok untuk menghilangkan penat akibat jalur pendakian yang menyentil mental bulat dan tekad, akhirnya kami bergegas kembali untuk melangkah ke pos selanjutnya, jalur setapak masih dirasa sama dengan kontur tanah yang berdebu cukup tebal dan vegetasi yang masih tertutup menemani perjalanan kami dari pos 2 Brekseng menuju pos selanjutnya yaitu pos 3 

Estimasi perjalanan pos 2 menuju pos 3 adalah jalur terpanjang di pendakian melalui jalur Candi Cetho, memakan waktu perjalanan sekitar 1 jam 45 menit dengan kontur tanah dan jalan setapak yang makin curam untuk dilalui. 

waktu menunjukan pukul 14: 15 WIB tibalah kami di pos 3 Cemoro Dowo di ketinggian 2.250 Mdpl disinilah pos yang terdapat Mata Air yang biasa digunakan para pendaki untuk mengisi air yang akan dibawa ke atas, sebenarnya ada mata air yang lain yaitu di pos Gupakan Menjangan namun menurut pendaki yang kami temui di jalur pendakian waktu mereka turun mereka memberi info bahwa Gupakan Menjangan saat ini kering tidak ada air. 

Berbekal info dari pendaki tersebut akhirnya kami dan tim rombongan mengisi seluruh botol botol yang telah kosong untuk di isi air di pos 3 Cemoro Dowo, selain mengisi ulang air kami juga beristirahat untuk sekdar menyantap kopi, teh hangat dan cemilan yang kami bawa. 

setelah selesai mengisi air dan menyantap kopi serta cemilan yang kami bawa, waktu sudah menunjukan pukul 15:30 WIB, kami melesat kembali ke atas. Jalur pendakian yang masih sama kita lewati dengan kontur tanah yang berdebu dan vegetasi yang masih tertutup. 

Estimasi perjalanan dari pos 3 Cemoro Dowo ke Pos 4 Penggik memakan waktu kurang lebih 1 jam 20 menit, namun dalam perjalanan pos 3 ke pos 4 kami berjalan begitu santai hingga tiba waktu gelap yang sebelumnya kita sudah sepakati bersama bahwasannya ketika waktu gelap kita diberi 2 pilihan oleh ketua regu Rambo untuk tidak bermalam di pos 4 yang sudah sama sama kita ketahui bahwa pos 4 Penggik tidak disarankan untuk bermalam disana(Mistis Lawu) 

setelah kami berjalan kami tiba di Pos 4 Penggik di ketinggian 2.550 Mdpl pada pukul 18.15, Adzan Maghrib mungkin sudah berkumandang di bawah kota sana, setelah kami sampai di pos 4 Penggik salah satu pendaki di tim kami merasakan dingin yang cukup hebat, akhirnya saya dan ketua regu memutuskan untuk menghangatkan badan nya dengan cara menyeduh Teh untuk sekedar menghangatkan badan nya dan teman yang lain pun ikut menyemangati agar pendakian tetap di lanjutkan. 

Tak ingin kami berlama-lama di pos 4 Penggik karena memang hawa yang dirasakan di pos tersebut sangat amatlah berbeda dari pos sebelum-sebelumnya, akhirnyan sekitar pukul 18:30 WIB kami melesat kembali ke pos 5 Bulak Peperangan yang akan menjadi tempat kita untuk bermalam. 

Estimasi Perjalanan yang ditempuh dari pos 4 ke pos 5 memakan waktu sekitar 1 jam 15 Menit, kami melalu kontur jalan yang semakin terjal dan tentu saja berdebu tebal namun vegetasi kini sudah mulai terbuka dan tidak rapat seperti vegetasi sebelumnya. 

Hembus angin malam dan suasana malam yang mencekam menemani kami dari pos 4 menuju ke pos 5 yang lagi-lagi membuat mental dan tekad bulat kami ciut, langkah demi langkah kami lakui dan juga melawan dinginnya malam Lawu. 

Akhirnya setelah pukul 20:00 WIB kami tiba di Pos 5 Bulak Peperangan di ketinggian 2.861 Mdpl. di sini lah kami mendirikan tenda untuk bermalam karena bulak peperangan memiliki sabana yang cukup luas dengan dikelilingi pepohonan pinus di sekelilingnya. 

Setelah kami mendirikan tenda dan mulai memasak untuk makan malam, teman kami yang kedinginan pun kembali menggigil dan terlihat biru di bibirnya, kami pun coba melakukan pertolongan pertama untuk ia dimasukan kedalam tenda dan menyelimuti nya dengan sleeping bag yang tebal dan tak luput kami juga memaksa ia untuk minum teh hangat yang sudah di seduh. 

setelah merasa kembali sedikit fit kami menyodorkan makanan yang dimasak dan menu malam itu adalah sop dan nugget, sosis goreng yang sangat amat nikmat disantap malam itu. 

Malam pun berlalu dengan dingin dan suasana yang mencekam pendaki yang lain pun sudah merangsek masuk kedalam tenda untuk beristirahat dan bersiap melakukan summit pada esok hari, aku dan yang lainnya masih menikmati malam dengan kopi dan roko diiringi cerita cerita untuk melalu malam yang mencekam, setelah itu kami pun beristirahat. 

karena semalam aku dan yang lain begadang maka rencana untuk bangun pagi di ketinggian 2,861 Mdpl adalah sesuatu yang Fana haha, kami tertidur sangat pulas ketika melihat jam, waktu sudah menunjukan pukul 10.15WIB. kami pun bergegas untuk membuat sarapan dan melakukan summit ke puncak gunung lawu. 

Pukul 11.00 WIB kami melakukan Start summit, karena tidak membawa Carrier yang melambatkan perjalanan, kami pun melesat dengan cepat ke gupak menjangan di ketinggian 2.952 Mdpl yang hanya memakan waktu 30 menit. 

Pendakian dilanjutkan dengan menyusuri padang savana yang sangat luas melewati area sumber air Gupakan menjangan yang dikala itu mengalami kekeringan akibat kemarau berkepanjangan, setelah melewati savana yang luas jalan mulai menanjak kembali melewati sisi bukit yang lain. area kembali terbuka vegetasi diganti oleh pepohonan cantigi, menandakan pasar dieng sudah mendekati.

pasar dieng merupakan area yang masih menyimpan sisa-sisa sejarah dimasa lampau, bebatuan besar berukuran nyaris sama, tersebar di area bekas-bekas pondasinya. Dari pasar dieng ada pertigaan jalur yang sama-sama mengarah ke puncak Hargo Dumilah.

Petilasan Prabu Brawijay adalah tempat menari pertama yang dijumpai di Hargo Dalem. Tempat ini adalah salah satu bukti bahwa ada aitan antara Gunung Lawu dan Prabu Brawijaya V.

Tak jauh di sisinya, berdiri warung fenomenal sepanjang masa, "Warung Mbok Yem" yang dinobatkan sebagai warung tertinggi di Indonesia. disinilah, satu-satunya tempat yang cocok untuk mengisi perut.

Dari Hargo Dalem, Menuju Puncak Lawu Hargo Dumilah tidak membutuhkan waktu lama, tapi hanya membutuhkan energi extra selama beberapa menit. Area menanjak dan berbatu akan menjadi tantangan sekaligus tanjakan terakhir sebelum tiba di Puncak Hargo Dumilah. 

Puncak Hargo Dumilah berada di ketinggian 3.265 Mdpl, ditandai dengan tugu yang kokoh berdiri di tengah. tak jauh di sisi puncak Hargo Dumilah, jangan lewatkan puncak Hargo Dumiling di sebrang. 

Disepanjang area puncak Hargo Dumiling merupakan tempat strategis untuk menikmati pemandangan sekitar. Pemandangan dari Puncak Gunung Lawu menampakan savana membentang, perbukitan serta jajaran Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing yang tampak di kejauhan. 

setelah puas menikmati keindahan yang disuguhkan Puncak Hargo Dumilah kami pun beranjak untuk turun kembali ke tempat camp kami bermalam dan melanjutkan pendakian ke basecamp Gunung Lawu Via Cetho. 

begitulah kisah pendakian Gunung Lawu Via Cetho yang kami lalui
Kunjungilah tempat yang belum kalian tuju, Markicabss !!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mandalawangi

 " Lembah Kasih Mandalawangi"  Mandalawangi-Pangrango Senja ini, ketika matahari turun Ke dalam jurang-jurangmu Aku datang kembali Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu Dan dalam dinginmu Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan Dan aku terima kau dalam keberadaanmu Seperti kau terima daku Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada Hutanmu adalah misteri segala Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta Malam itu ketika dingin dan kebisuan Menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua “hidup adalah soal keberanian, Menghadapi yang tanda tanya Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar Terimalah, dan hadapilah” Dan antara ransel-ransel kosong Dan api unggun yang membara Aku terima itu semua Melampaui batas-batas hutanmu Aku cinta padamu Pangrango Karena aku cinta pada keberanian hidup Djakarta 19-7-1966 Soe Hok Gie

Perbedaan Pendaki Jaman Dulu dan Pendaki “Jaman Now”

  Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan di alam terbuka. Karena tidak semua orang menyukai aktivitas ini, pendakian gunung masuk dalam kegiatan minat khusus. Kegiatan pendakian gunung kian hari semakin berkembang dan jadi semakin diminati. Tentu saja ada perbedaan antara jaman dulu dan sekarang. Perbedaan tersebut sebenarnya bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan agar para pendaki tetap mengedepankan keselamatan dan kelestarian lingkungan. Inilah tujuh perbedaan pendaki jaman dulu dan pendaki  jaman now  versi saya: 1. Jumlah Pendaki jaman dulu secara jumlah lebih sedikit dibandingkan dengan sekarang. Dulu hanya orang-orang tertentu saja yang menyukai kegiatan ini, terutama mereka yang tergabung dalam organisasi pencinta alam, misalnya mahasiswa pencinta alam. Sekarang, pendakian gunung tidak hanya digeluti oleh orang-orang yang tergabung dalam organisasi pencinta alam saja. Siapa pun yang ingin mendaki gunung bisa dengan mudah melakukannya. 2. Skill dan pengetahua...

Pilihan Tempat Camping Keluarga di Bandung.

  Siapa nih yang akhir tahun ini akan berlibur bersama keluarga? camping keluarga? kenapa tidak? bisa banget dilakukan loh gengs. Wisata Camping keluarga sekarang sedang banyak digandrungi oleh seluruh kalangan. Pasalnya, camping keluarga ini dapat dilakukan tidak hanya di Gunung saja, tetapi di camping ground yang ada di sekitar kita. Coba, yuk saya tunjukin beberapa rekomendasi tempat yang cocok untuk camping keluarga di Bandung. Gunung Putri, Lembang Anak gaul Bandung pasti tau nih gunung putri, lembang. Di lembang, ada sebuah tempat camping yang dinamakan gunung Putri. tempat ini cocok sekali untuk kalian yang ingin bercamping ria bersama keluarga, kenapa? suasana gunung nya sudah jelas tidak perlu diragukan lagi, udara pegunungan pun mantap sekali, dan ditemani pemandangan  city light  yang indah pun menjadi daya tarik tersendiri loh Areingers. Tempatnya pun tidak terlalu sulit di jangkau. Tempat parkir baik untuk motor atau mobil pun tersedia. Jadi ini merupakan tem...